Sekolah Lembah Hijau adalah sekolah yang tidak terletak di kota. Sekolah itu satu-satunya yang ada di pedalaman Lembah Hijau yang namanya tidak pernah didengar sekalipun oleh anak-anak dari kota.

Anak-anak yang bersekolah di Sekolah Lembah Hijau tidak menggunakan mobil pribadi ataupun kendaraan umum untuk pergi ke sekolah. Mereka berjalan kaki dari rumah masing-masing dan harus menyeberangi sungai luas untuk sampai ke sekolah mereka. Untung saja ada jembatan kokoh yang selalu siap menyeberangkan anak-anak itu.

“Selamat pagi jembatan, hari ini kami minta tolong lagi ya, terima kasih!” kata seorang anak bernama Bian. Teman-teman Bian menertawakannya. “Kenapa harus berterima kasih pada jembatan, Bian?” kata Jeni, anak yang belum lama ini pindah dari kota ke Lembah Hijau karena tugas orangtuanya. “Karena jembatan ini diinjak-injak terus oleh kita, kasihan kan?” jawab Bian. “Kau benar!” kata Jeni, dan dia pun ikut berterima kasih pada jembatan.

Setahun kemudian, Jeni harus kembali ke kota karena tugas orangtuanya sudah selesai. Bian dan anak-anak Lembah Hijau sedih, begitu juga dengan Jeni. Tapi apa boleh buat, Jeni harus ikut Ayah dan Ibunya. “Aku akan mengabari kalian,” kata Jeni. “Kami tunggu ya, Jeni!” kata Bian dan teman-temannya.

Tak lama kemudian, Bian menerima surat dari Jeni. Kata Jeni, di kota sedang ada penyakit menakutkan yang menyebabkan dia dan keluarganya harus berada di rumah. “Kuharap, kalian semua tidak seperti aku disini,” kata Jeni.  Sejak itulah mereka mulai mengerti apa sebenarnya yang disebut pandemi.

Kemudian terdengar kabar mengejutkan. Pak Bon yang dulu pernah ikut membangun jembatan yang setiap hari menyeberangkan anak-anak Lembah Hijau ke sekolah, terkena penyakit yang menjadi sebab pandemi. Keseharian Bian dan teman-temannya berubah. Sama seperti Jeni, mereka hanya diperbolehkan di rumah dan harus menjaga jarak masing-masing. Bian dan teman-temannya tidak boleh pergi ke sekolah lagi.

“Lalu, bagaimana kita bisa belajar sedangkan kita tak bisa bertemu dengan Bapak dan Ibu Guru lagi?” tanya Bian dan teman-temannya bingung. Seolah bisa merasakan kegundahan hati Bian dan teman-temannya, surat dari Jeni datang lagi. Isinya mengabarkan tentang internet yang akan membuat mereka bisa belajar tanpa pergi ke sekolah.

Rupanya, Papa dan Mama Jeni bekerja untuk sebuah perusahaan telekomunikasi yang mempelajari keadaan pedalaman Lembah Hijau. Perusahaan ini sangat prihatin dengan keadaan blank spot Lembah Hijau. Mereka membangun fasilitas untuk Lembah Hijau sehingga akses internet dan telepon tidak mengalami kesulitan lagi.

Kini, Bian dan teman-temannya sama seperti Jeni di kota, mereka belajar secara daring. Dan teknologi ini juga membuat anak-anak Lembah Hijau bisa bertatap muka dengan Jeni lagi. Bian bercerita tentang keadaan Pak Bon yang membaik dengan cepat. Karena akses internet yang mudah, Pak Bon bisa berkonsultasi dengan tenaga kesehatan yang ahli tentang pandemi di kota.

“Syukurlah!” kata Jeni. “Jangan lupa selalu disiplin menuruti aturan kesehatan ya, Teman-teman,” kata Jeni. “Kau juga Jeni, ayo kita semua ikut membantu supaya pandemi ini menghilang dan kita bisa bertemu lagi!” balas Bian dan teman-temannya.

 

 

 

Cerita: Seruni        Ilustrasi: Agung

 

You may also like
Latest Posts from Majalahjustforkids.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *