Kerajaan Luma adalah kerajaan yang dikelilingi oleh lautan. Rakyat Negeri Alu  bahagia karena bisa menikmati hasil laut yang beragam dan lezat, seperti rumput laut dan ikan. Tapi, ada satu hasil laut yang sangat berharga untuk Kerajaan Luma yaitu garam. Laut Negeri Luma menghasilkan garam lezat yang sangat disukai bukan hanya oleh penduduk Luma, tapi juga kerajaan lain.

Banyak yang membeli garam Kerajaan Luma, sehingga kerajaan ini menjadi makmur dan kaya. Pembuatan garam di Kerajaan Luma ada di bawah pengawasan Raja atau Ratu Luma, tergantung siapa yang bertahta.

Saat ini di Kerajaan Luma bertahta seorang Raja, dan sang Raja ingin agar puteranya, Alu belajar bertani garam. “Sebentar lagi bulan suci Ramadan dan Lebaran akan tiba. Pasti kau bangga jika garam buatanmu digunakan untuk menyantap hidangan berbuka dan pada saat Hari Kemenangan tiba,” kata sang Raja pada Alu. “Kau benar, Ayah. Aku akan belajar bertani garam dengan bersemangat!” kata Alu.

Tapi sayang sekali tidak ada yang bisa memberitahu Alu tentang cara membuat garam. “Kau harus mencarinya sendiri,” kata sang Raja. “Kurasa hanya Matahari-lah yang tahu cara membuat garam. Karena dia selalu melihat para petani garam terdahulu bekerja,” kata Alu sambil melihat ke langit. “Kau benar, aku bisa membantumu,” terdengar sebuah suara, rupanya itu Matahari! “Terima kasih, Matahari!” seru Alu senang.

Alu belajar menjadi petani garam dengan bantuan Matahari. Matahari menghalau hujan dan memberikan sinar dan panasnya agar garam buatan Alu sempurna. Akhirnya, bulan puasa tiba. Penduduk kerajaan menjalankan kewajiban suci mereka berpuasa. “Tapi sungguh sulit berpuasa dalam keadaan seperti ini. Matahari, kau bersinar terang. Cuaca sangat panas!” kata Alu. “Aku bersinar terang agar garam buatanmu sempurna,” kata Matahari. “Sekarang  garamku sudah terkumpul banyak, panen berhasil. Berhentilah bersinar, Matahari,” pinta Alu.

Matahari yang sedih pun menyembunyikan dirinya. “Apa yang terjadi dengan Matahari?” tanya Raja pada Alu. “Aku menyuruhnya pergi, Ayah. Agar kita semua bisa berpuasa dengan mudah,” jawab Alu. “Jadi, kau mengusir Matahari yang telah membantumu? Itu perbuatan yang jahat. Alu, justru kita harus berterima kasih pada sinar Matahari. Panas Matahari menjadi ujian bagi kita dalam menjalankan puasa. Kita harus berdoa agar diberikan kekuatan. Kelak kemenangan yang kita dapatkan akan menjadi lebih berarti!” kata Raja menasihati Alu.

Mendengar itu, Alu menyesali perbuatannya. “Maafkan aku, Matahari. Kau adalah bagian dari Kerajaan Luma yang dikelilingi lautan. Kumohon keluarlah,” kata Alu. Matahari pun menampakkan dirinya sambil tersenyum. Ketika Hari Kemenangan tiba, Matahari juga ikut bergembira. Dia memberikan sinarnya pada penduduk Kerajaan Luma yang merayakannya sambil menyantap hidangan yang dimasak dengan garam buatan Alu.

 

 

 

 

Cerita: Seruni     Ilustrasi: Agung

You may also like
Latest Posts from Majalahjustforkids.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *