Wisnu merupakan anak pertama dari lima bersaudara. Ia mempunyai sifat yang buruk. Ia adalah anak yang sangat rakus.

Pada suatu hari, Mama membeli sebuah roti. Setibanya dari pasar, roti tersebut diletakkan di atas meja makan. Dan Mama melanjutkan pekerjaannya mengurus  dan membersihkan pekarangan rumah.

“Wah, roti itu kelihatannya sangat enak. Kalau menunggu adik-adik pulang dari bermain, pasti aku hanya mendapatkan bagian yang sedikit!” gumam Wisnu.

Melihat situasi dalam rumah yang sepi, Wisnu pun segera mengambil separuh dari roti tersebut. Wisnu membawanya ke kamar dan memakannya dengan cepat. Setelah itu, diam-diam Wisnu meninggalkan rumah untuk bermain.

Tidak lama kemudian, Mama masuk ke dalam rumah. Alangkah terkejutnya Mama ketika menemukan roti yang baru saja dibelinya tinggal separuh. Mama mengira roti tersebut telah dicuri oleh tikus.

Sore hari, setelah Wisnu dan keempat adiknya pulang ke rumah, Mama menceritakan tentang kejadian hilangnya roti tersebut. Namun Wisnu pura-pura tidak tahu. Apalagi Mama juga tidak mempermasalahkannya. Karena Mama percaya bila semua anak-anaknya merupakan anak-anak yang baik hati.

Hari Minggu berikutnya, seperti biasa, Mama dan Papa pergi berbelanja ke pasar. Mereka selalu membeli barang-barang untuk keperluan rumah, termasuk makanan. Mama biasa menyimpan beberapa barang belanjaan di dalam lemari dan sebagian lagi di kulkas. “Sini, Ma, Wisnu bantu,” kata Wisnu begitu melihat Mama dan Papanya tiba dari pasar. Dalam pikiran Wisnu, segera timbul niat tidak baik. Sifat rakusnya muncul kembali.

Secara diam-diam, Wisnu ingin memakan beberapa makanan yang baru saja dibeli Mama dan Papa. Pikir Wisnu, jika ijin dulu, pasti Mama akan menyuruh untuk membaginya dengan keempat adik-adiknya. Dan pasti ia cuma mendapat sedikit bagian.

Maka sore itu, saat Papa sedang pergi ke rumah Nenek, keempat saudaranya pergi bermain, dan Mama sibuk membereskan kamar, Wisnu segera melancarkan aksinya.

Wisnu berjalan mengendap-endap ke lemari tempat menyimpan makanan. Ia menemukan beberapa makanan, salah satunya adalah makanan kesukaannya yaitu cokelat. “Ini kesempatan baik, aku bisa menikmati cokelat itu sepuas-puasnya,” batinnya.

Wisnu mengambil beberapa batang cokelat yang tersimpan di lemari tersebut. Wisnu membawa cokelat-cokelat itu ke dalam kamarnya dan memakannya. Wisnu memakan semua cokelat itu hanya dalam waktu sekejap saja. Rasa cokelat yang Wisnu makan memang terasa agak berbeda. Namun, Wisnu tidak begitu mempedulikannya.

Tidak lama kemudian, terdengar suara pintu diketuk dari luar kamarnya. Wisnu begitu takut pada saat itu. Wisnu mengira kalau perbuatannya telah diketahui oleh seseorang. Wisnu pun berusaha untuk menenangkan diri. Ia berusaha menutupi perbuatan buruknya itu, lalu membuka pintu kamar. Mama pun sudah berdiri di depan pintu kamarnya.

“Wis, apa kamu tahu cokelat yang Mama simpan di dalam lemari itu?” tanya Mama. Wisnu agak terkejut. Dugaannya benar. Tapi Wisnu tetap berusaha untuk menutupi perbuatannya. “Mama, aku kan dari tadi di dalam kamar. Mana aku tahu. Mama jangan menuduh sembarangan dong..,” ucap Wisnu.

“Maaf sayang. Mama tidak menuduh. Untung saja kamu tidak memakannya. Mama sengaja meletakkan cokelat itu di dalam lemari supaya tidak ada yang menemukannya. Apalagi memakannya. Soalnya, cokelat itu sudah kadaluwarsa. Mama mau membuangnya tapi belum sempat,” kata Mama.

“Apaaaaaaaa??? Jadi yang kumakan adalah cokelat yang sudah kadaluwarsa??” batin Wisnu. Wisnu sangat kaget mendengar penjelasan Mamanya. Dan ia sangat menyesal. Ia berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak mengulanginya lagi. Ia tidak akan rakus lagi.

 

Cerita: JFK    Ilustrasi: JFK

You may also like
Latest Posts from

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *