Nita suka sekali makan bakso. Setiap diberi uang jajan, ia pasti selalu membeli bola daging yang dihidangkan dengan kuah segar itu. Kegemaran Nita makan bakso diikuti pula dengan kesukaannya akan makanan pedas. Jika makan bakso, maka Nita akan mencampurkan sambal yang sangat banyak dalam kuahnya. Walaupun sudah dinasihati oleh Bunda, tapi Nita tetap tak menghiraukannya.

Suatu hari, pada jam istirahat sekolah, Nita mengajak sahabatnya, Fira makan bakso. Mereka pun bergegas ke tukang bakso langganan mereka di belakang sekolah, Bakso Pak Raden. “Pak, baksonya 2 mangkuk, yang satu pakai mie putih dan yang satu pakai mie kuning saja,” seru Nita kepada Pak Raden.

Tak lama kemudian, bakso pesanan Nita dan Fira tiba di meja. “Hmm, aku sudah nggak sabar menikmatinya,” kata Fira sambil mengambil sendok dan garpu. Sementara itu, Nita sibuk menambahkan sambal ke dalam baksonya. Tiga sendok sambal berhasil mendarat di mangkuk yang berisi bulatan daging dan kuah panas tersebut. “Nit, nggak salah sambalnya sampai 3 sendok? Kamu nggak kepedesan?” tanya Fira heran. “Justru ini yang bikin baksonya makin nikmat, Fir,” jawab Nita dengan santai. Kemudian mereka melahap habis bakso favorit mereka sampai tak tersisa sedikit pun.

Ketika bel tanda istirahat selesai berbunyi, Nita dan Fira kembali ke kelasnya. Mereka melanjutkan kegiatan seperti biasa sampai jam pulang sekolah tiba. Ketika pulang sekolah dan sampai di rumah, Nita berganti pakaian dan menonton acara televisi. Ketika sedang asyik menonton, tiba-tiba Nita merasa perutnya sakit. “Duh, kok, perutku sakit, ya?” kata Nita dalam hati. Ia pun bergegas ke kamar mandi. Namun, rasa sakitnya tak kunjung hilang.

Nita pun segera menghampiri Bunda yang sedang membaca majalah di kamar. “Bun, perutku sakit sekali,” keluh Nita. “Hmm, kamu makan pedas lagi, ya?” kata Bunda menebak. “Tadi aku makan bakso, tapi sambalnya cuma 3 sendok, kok,” jawab Nita. “Tiga sendok kamu bilang ‘cuma’?!” kata Bunda terkejut.

Akhirnya, Bunda mengajak Nita ke klinik dekat rumah untuk memeriksakan perutnya. “Begini dok, anak saya sakit perut. Tadi katanya dia habis makan bakso, tapi sambalnya kebanyakan,” kata Bunda menceritakan kondisi Nita kepada dokter. “Baiklah, ini saya kasih obat, ya, kalau sakit perutnya tidak hilang sampai besok, silakan kembali ke sini untuk diperiksa lebih lanjut,” terang sang dokter.

Begitu tiba di rumah, Nita segera meminum obat pemberian dokter dan tertidur. Keesokan harinya, Nita merasa sakitnya sudah hilang. “Bagaimana, Nit, sudah sembuh sakit perutnya?” tanya Bunda. “Sudah, Bun,” jawab Nita singkat. “Di sekolah, jangan jajan yang pedas dulu, ya, Nit. Nanti perutmu sakit lagi,” nasihat Bunda. “Tapi kalau makannya tidak pedas, rasanya kurang nikmat, Bun,” kata Nita bersikukuh.

Di sekolah, Fira kembali mengajak Nita untuk makan bakso dan mereka pun berangkat ke Bakso Pak Raden. Ketika bakso sampai di meja, Fira merasa ada yang aneh. “Nit, tumben nggak pakai sambal?” tanya Fira heran. “Kemarin pas aku sampai rumah, perutku sakit sekali, dan akhirnya Bunda membawaku ke klinik, lalu dikasih obat sama dokter,” Nita menceritakan kejadian kemarin. “Wah, Pak Raden nggak akan rugi lagi, sambalnya nggak cepat habis!” canda Fira. “Kamu, kok, malah ngeledek aku, sih?” Nita menjawab kesal sambil kembali menyantap bakso yang tidak diberi sambal sama sekali.

 

Cerita: JFK    Ilustrasi: JFK

You may also like
Latest Posts from

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *