Puput, Dini, Rizal, dan Doni adalah empat sahabat. Mereka bersekolah di sekolah yang sama. Pergi dan pulang sekolah pun selalu bersama. Suatu ketika, Puput dibelikan gadget terbaru oleh Ayahnya. Di dalam gadget itu banyak sekali aplikasi permainan (game). Puput pun membawanya ke sekolah. “Put, itu apa yang kamu bawa?” tanya Dini. “Aku menyebutnya gadget, kemarin baru dibelikan oleh Ayahku. Banyak permainannya, lho,” jawab Puput. “Aku boleh pinjam?” tanya Doni. “Nanti dulu, ya Don, aku sedang main nih sekarang,” kata Puput. Puput pun asyik bermain dengan gadget barunya. “Kita main dengan teman-teman yang lain aja, yuk!” ajak Doni pada Dini dan Rizal. “Ayuuuk!” sahut Dini dan Rizal. Mereka pun pergi meninggalkan Puput yang asyik sendiri dengan mainan barunya. “Puput sekarang gitu, ya. Tidak seperti dulu lagi,” kata Rizal pada Doni. “Iya, sekarang Puput lebih memilih memainkan gadget barunya, daripada main sama kita,” timpal Dini. “Sudah, biarkan saja. Mungkin Puput sedang senang menikmati mainan barunya. Nanti juga kalau sudah bosan, dia akan main lagi dengan kita,” ujar Doni.

Keesokan harinya, seperti biasa, Puput, Dini, Rizal, dan Doni pergi ke sekolah bersama-sama. Mereka berempat berjalan sambil bercerita dan tertawa. Tiba-tiba, Puput bercerita tentang salah satu permainan yang ada di gadgetnya. Doni, Dini, dan Rizal hanya bisa diam karena mereka tidak tahu tentang permainan itu. Setiap mau melihatnya, Puput tidak memperbolehkannya. Tak berapa lama, sampailah mereka di sekolah. Mereka masuk kelas dan memulai pelajaran. Saat jam istirahat, Dini mengajak Puput pergi ke kantin untuk membeli makanan. Sepanjang jalan menuju kantin, Dini bercerita panjang lebar. Tapi Puput malah asyik sendiri dengan gadgetnya. “Huh! Puput kok jadi aneh gini semenjak punya mainan baru. Jadi asyik sendiri!” omel Dini.

Setelah dari kantin, Puput dan Dini menghampiri Doni dan Rizal yang sedang berada di lapangan sepakbola. “Rizal! Doni!” teriak Dini. Rizal dan Doni langsung menghampiri Dini dan Puput yang tentu saja masih sibuk dengan gadgetnya. “Kalian dari mana?” tanya Rizal. “Kita dari kantin, Zal!” jawab Dini. “Puput, kamu kok mainin itu terus, sih, memangnya nggak bosen?” tanya Rizal. “Aku lagi seru nih, Zal!” jawab Puput. “Bisa ditaruh dulu nggak gadget-nya? Kita main ular-ularan, yuk!” ajak Doni. “Ayo, Put,” kata Dini. “Ah nggak mau ah, lagi seru, nih!” jawab Puput tanpa menoleh. “Oh, ya sudah. Kita main ular-ularan dengan yang lain saja, yuk!” ajak Doni pada Rizal dan Dini. Mereka bertiga kemudian bermain ular-ularan dengan teman-teman yang lain. Suasana sangat ramai dan seru di lapangan. Tidak lama kemudian, bel berbunyi. Waktunya mereka untuk masuk ke kelas kembali dan melanjutkan pelajaran hari itu.

Pukul 12 tepat, bel pulang sekolah berbunyi. Kali ini, Doni, Dini, dan Rizal hanya pulang bertiga tanpa Puput. Mereka mulai merasa kesal dengan sikap Puput yang berubah dan selalu asyik sendiri dengan gadget-nya tanpa melihat sekitar. Begitu juga dengan keesokan paginya. Mereka berangkat ke sekolah bertiga, dan tidak menghiraukan sapaan Puput. “Hai, teman-teman. Tungguin aku, dong!” teriak Puput. Namun Dini, Doni, dan Rizal tidak menghiraukannya. “Dini, Doni, dan Rizal kenapa, ya?” tanya Puput dalam hati. “Mereka kok cuek sama aku, tapi mereka senang bermain dengan teman-teman yang lainnya,” gumam Puput. Puput merasa sedih ketika tahu teman-temannya mulai menjauh darinya. Sampai di sekolah, Dini, Doni, dan Rizal, tetap tidak menyapa Puput. Mereka bertiga asyik bermain dengan teman-teman yang lain. “Kemarin aku asyik sendiri dengan mainanku dan tidak menghiraukan ajakan mereka untuk main. Sekarang, mereka yang tidak menghiraukan aku,” gumam Puput. Puput pun merasa kesepian tanpa Dini, Doni, dan Rizal yang sebelumnya selalu bersama.

Puput mulai sadar akan kesalahannya. Dia menghampiri Dini, Rizal, dan juga Doni yang sedang asyik bermain. “Din, Don, Zal, kalian masih mau kan berteman denganku?” ucap Puput. “Hai, Put, kok kamu ngomong gitu?” tanya Rizal. “Aku ngerasa kalian mulai jauh dari aku. Aku tahu kok kalau aku salah karena selalu asyik dengan gadget-ku,” ujar Puput tertunduk sedih. “Ya jelaslah kita masih mau main sama kamu, kita sengaja begini agar kamu sadar dan perhatikan sekitar kamu, Put,” ucap Dini. “Kita ingin kamu tetap menjadi Puput yang biasanya, yang tidak egois,” timpal Doni. “Maafin aku ya, teman-teman. Aku janji nggak akan autis lagi dengan gadget aku. Ternyata, dengan gadget tak selamanya asyik. Maaf ya, aku sudah mengabaikan kalian,” ujar Puput. “Oke, kita maafin kamu kok, Put,” jawab Doni, Dini, dan Rizal.

(Cerita: Just For Kids/ Ilustrasi: Just For kids)

 

You may also like
Latest Posts from

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *