Pada suatu pagi yang cerah di SD Nusa Indah, Via dan Nia, teman sekelasnya, berjalan menuju sekolah. “Eh, Via, kamu sudah belajar belum?” tanya Nia. “Lho, memangnya sekarang ada ulangan?” jawab Via kaget. “Iya, kan nanti ada ulangan matematika,” kata Nia lagi. “Oh iya, aku lupa,” ucap Via. “Waduh, mana aku belum belajar lagi,” ucap Via di dalam hati.

Seminggu yang lalu, Bu Guru memang mengumumkan kalau hari ini akan diadakan ulangan matematika. Karena berpikir masih seminggu lagi, Via pun tidak mencicil belajar matematika. Selama ini Via memang hanya belajar kalau ada ulangan saja. Itu pun baru dilakukannya pada malam harinya. Dan kali ini, karena punya mainan game baru, membuat Via jadi lebih suka bermain daripada belajar.

Mendengar kalau hari ini ada ulangan matematika dan dirinya belum belajar sama sekali, Via pun berpikir keras memutar otaknya untuk mencari alasan. “Ah, aku akan berpura-pura sakit saja saat pelajaran matematika nanti,” ujarnya dalam hati.

Teet…Teet…Teet… Bel tanda masuk berbunyi. Via dan teman-temannya berbaris di depan kelas. Secara tertib mereka masuk kelas menuju tempat duduknya masing-masing dan kemudian berdoa. Setelah selesai berdoa, tak lama kemudian, Bu Vena, guru matematika memasuki kelas. Via pun mulai melakukan aksinya.

“Nita, kepalaku pusing…,” ucap Via pada Nita, teman sebangkunya. “Hah? Kamu pusing?” ujar Nita kaget. “Kamu mau ke UKS?” ujar Nita lagi. “Iya, Nit…,” tutur Via sambil berpura-pura lemas. “Ya sudah, ayo, aku antar ke UKS. Aku izinkan dulu ya sama Bu Vena,” kata Nita.

Setelah diizinkan oleh Bu Vena, Via digandeng Nita berjalan menuju ruang UKS. Sesampainya di UKS, Via segera berbaring di tempat tidur yang sudah disediakan.  “Terima kasih ya, Nit. Kamu ke kelas saja, kan mau ulangan matematika. Aku disini sendirian tidak apa-apa kok,” ucap Via. “Ya sudah, aku ke kelas lagi ya. Kamu tiduran saja biar pusingnya hilang,” kata Nita.

Saat Nita sudah kembali ke kelas, Via merasa sangat lega. Via berpura-pura sakit karena lupa belajar. Via ternyata juga membawa mainan game kesayangannya di kantong. “Hmm… Aku harus cek keadaan dulu, siapa tahu ada orang di sekitar sini,” kata Via sambil mengecek keadaan di sekitar UKS. “Asyik aman, saatnya bermain!” kata Via gembira karena rencananya berhasil.

Via segera mengeluarkan mainan-nya dari dalam kantong. Saking asyiknya bermain, Via lupa waktu dan tak sadar kalau Bu Vena dan Nita sudah berada di hadapannya. “Via, kamu pura-pura sakit ya?” tegur Bu Vena. “Em… anu Bu…S-saya lupa belajar, saya takut nanti tidak bisa mengerjakan ulangan matematikanya,” ujar Via kaget dan tak bisa lagi berbohong. “Kenapa kamu tadi tidak terus terang saja, Via? Lagipula ulangannya tadi boleh lihat buku kok,” kata Bu Vena.

Via merasa sangat menyesal. Andai saja dia berterus terang. “Maafkan saya, Bu,” ucap Via. “Ya sudah, tidak apa-apa, Ibu akan maafkan, tapi hukumannya kamu harus menulis “Saya menyesal dan tidak akan mengulanginya lagi” sebanyak 15 kata, tidak apa-apa ya?” kata Bu Vena. “Tidak apa-apa, Bu. Hukuman itu pantas  bagi anak pembohong seperti saya,” ujar Via. “Baiklah, Via. Ayo kembali ke kelas,” ajak Bu Vena. Via sangat menyesal telah berbohong, namun Via melaksanakan hukumannya dengan senang hati. Via mendapatkan sebuah pelajaran penting dari pengalamannya itu. Walau belum belajar apa pun, tetaplah berusaha dan jangan berbohong.

Ilustrasi: Just For Kids Magz

You may also like
Latest Posts from Majalahjustforkids.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *