KukururuyuuuukKukuruyuuuuk…” Suara ayam jantan terdengar sangat kencang dari sebuah kandang. Setiap pagi, ayam itu selalu berkokok membangunkan hampir semua keluarga di desa. Dialah Ayah Koko. Koko adalah anak ayam jantan kecil. Ia selalu mengagumi suara berkokok Ayahnya itu. Ya, suara ayam jantan yang selalu terdengar pada pagi hari adalah Ayahnya yang sangat dibanggakan.

Koko tinggal bersama Ayah, Ibu, dan ketiga Adiknya di sebuah kandang sederhana. “Aku ingin sekali seperti Ayah,” ujar Koko kepada Ayahnya. “Kamu pasti bisa, kalau sudah saatnya,” ujar Ayahnya sambil mengibaskan sayap.

Sebenarnya, Koko sudah tak sabar untuk berkokok tiap pagi menggantikan Ayah. Soalnya, Ayah semakin lama semakin tua. Suaranya pun sudah tidak selantang dulu lagi. Kadang-kadang, Ayah telat bangun tidur. Sehingga suara berkokoknya pun terlambat membangunkan penduduk desa.

Setiap pagi, Koko selalu memperhatikan cara Ayahnya berkokok. Setelah bangun dari tidurnya, Ayah Koko langsung pergi ke luar kandang. Untungnya, kandang yang ditinggali Koko sekeluarga dibuat cukup tinggi. Sehingga tiap kali Ayah Koko berkokok, dapat terdengar dari kejauhan.

Sebelum berkokok, Ayahnya selalu menarik nafas panjang-panjang. Tiapkali menahan nafas panjang, dada Ayah Koko terlihat membusung. “Ayah gagah sekali waktu mau berkokok,” ujar Koko. “Tenang saja, Ko, kamu nanti juga akan terlihat gagah saat berkokok,” jawab Ayah Koko.

Suatu hari, Koko pernah mencoba untuk berkokok. Ia mencoba menghirup udara banyak dan menahannya. “Uhuuukk..huukkk,” Koko justru terbatuk-batuk saat menahan nafas.

Koko tak berhenti mencoba. Saat berusaha kedua kalinya, “Kukuru..” suara Koko sangat pelan. Hanya ia saja yang bisa mendengar suaranya. Kalau suaranya seperti ini, mana ada orang yang terbangun pada pagi hari.

Akhirnya, Koko selalu berlatih dengan Ayahnya. Setiap pagi, ia selalu memperhatikan cara Ayahnya berkokok. Setelah itu, Koko langsung berlatih berkokok.

Koko belum merasa sebagai ayam jantan, jika belum bisa berkokok dengan jantan seperti Ayahnya. Usia Ayah yang semakin tua, semakin membuat Koko khawatir. “Ayah sebaiknya banyak istirahat,” ujar Koko. “Kalau Ayah istirahat, nanti siapa yang akan berkokok dan membangunkan penduduk desa?” jawab Ayahnya.

Sang Ayah memang tak mau berhenti berkokok. Ia tak mau membuat penduduk desa bangun terlambat. Koko pun belum bisa berkokok dengan lantang. Sehingga, ia tak bisa menggantikan peran Ayahnya.

Semangat Koko untuk belajar berkokok terus meningkat. Ia semakin banyak berlatih dengan Ayahnya. “Aku mau terus berlatih demi Ayah dan penduduk desa,” tegas Koko bersemangat.

Suatu pagi, Koko terbangun. Matahari mulai mengintip dari kejauhan. Pertanda pagi sudah menjelang. Ia melihat Ayahnya masih tertidur lelap. “Aduh, sudah pagi kok Ayah belum terbangun ya?” pikir Koko.

Ayah Koko terlihat pulas tertidur. Koko tak tega membangunkan tidur Ayahnya. “Mungkin ini sudah saatnya aku tunjukkan suaraku,” ujar Koko kepada dirinya sendiri.

Dengan perlahan, ia mulai berjalan keluar dari kandang. Ia kemudian berdiri di pinggir kandangnya. Koko mulai mengibaskan sayapnya untuk pemanasan. Koko merasa gugup. Dadanya berdebar kencang. Ia merasa tak yakin dengan kemampuannya berkokok.

Koko menoleh ke arah Ayahnya yang masih tertidur lelap di dalam kandang. Rasa sayang kepada Ayahnya semakin membuat ia yakin untuk berkokok pada pagi hari yang cerah itu.

Koko mulai menarik nafas panjang dan membusungkan dadanya. Keluarlah suara berkokok yang kencang. “Kukuruyuuuk….Kukuruyuuuukk,” suara Koko terdengar sangat kencang hingga ke pelosok desa. Kembali Koko menarik nafas panjang dan membusungkan dadanya. “Kukuruyuuuukkk… Kukuruyuuuk,” kali ini suaranya terdengar lebih keras dan tegas.

Ayah Koko terbangun dan kaget dengan suara ayam berkokok. Ia terkejut melihat suara berkokok itu berasal dari Koko yang sedang berada di luar kandang. Ibu dan tiga Adik Koko juga terbangun dari tidurnya. “Lihat, Bu, Koko sudah bisa berkokok,” ujar Ayah Koko.

Keluarga itu kemudian berkumpul dan menghampiri Koko. “Koko, akhirnya kamu bisa berkokok,” ujar Ayah dengan bahagia. Koko yang masih terengah-engah, juga nampak gembira. “Ini untuk Ayah dan penduduk desa,” jawab Koko.

“Mulai besok, kamu akan menggantikan Ayah membangunkan penduduk desa dengan suara kamu yang lantang itu,” tegas Ayah dengan yakin. “Kita semua bangga kepadamu, Ko,” Ibu Koko tak mau ketinggalan mengomentari suara berkokok Koko. Semua anggota keluarga kemudian berpelukan bahagia menyambut keberhasilan Koko.

Akhirnya, sejak saat itu Koko mulai menggantikan peran Ayahnya berkokok setiap pagi. Koko pun tak pernah terlambat bangun dan berkokok dengan suara yang lebih keras dan lantang. Penduduk desa tak pernah terlambat bangun lagi berkat Koko. Sedangkan, Ayahnya sudah dapat beristirahat mengisi hari tuanya. Kini, Koko menjadi ayam jantan yang gagah.  (Penulis Cerita : JFK / Ilustrasi : Agung)

You may also like
Latest Posts from

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *