Setiap daerah tentu saja berlainan adat kebiasaannya, begitu juga saat merayakan Lebaran di enam daerah di Indonesia ini. Bagaimana dengan daerah tempat tinggalmu, Kids? Tradisi unik apa yang hanya ada saat Idul Fitri?

Grebeg Syawal di Yogyakarta
Setiap tanggal 1 Syawal, keraton Yogyakarta mengadakan pesta Grebeg Syawal. Perayaan ini dilangsungkan dengan cara mengarak Gunungan Kakung dan Gunungan Putri yang disusun dari sayuran dan berbagai hasil bumi. Gunungan ini dimaksudkan sebagai sedekah Sultan kepada rakyatnya.
Warga yang hadir dipersilakan untuk berebut Gunungan. Konon, bagian hasil bumi yang ada di Gunungan ini bisa membawa berkah dan kesejahteraan bagi yang mendapatkannya.

Tradisi Grebeg Syawal di Jogjakarta.

Meriam Karbit di Pontianak
Kalau kalian mendengar suara dentuman meriam pada saat malam takbiran, berarti kamu sedang berada di Pontianak, Kids. Setiap menjelang Lebaran, tepi Sungai Kapuas dipenuhi dengan meriam yang berderet-deret. Meriam ini terbuat dari kayu dan bambu.
Tradisi ini sudah berlangsung sejak ratusan tahun yang lalu. Konon, awalnya suara dentuman meriam yang keras ini digunakan untuk mengusir kuntilanak. Tapi, kini tradisi ini menjadi salah satu event yang paling ditunggu di Pontianak, lho, Kids.

Tradisi Meriam Karbit di Pontianak.

Bakar Gunung Api di Bengkulu
Suku Serawai di Bengkulu punya cara unik untuk menyambut Lebaran. Tradisi ini dikenal dengan nama Ronjok Sayak atau Bakar Gunung Api. Pada malam takbiran, masyarakat menyusun batok kelapa tinggi-tinggi di halaman rumah masing-masing. Setelah cukup tinggi, “menara” batok kelapa yang disebut lunjuk ini lalu disulut dengan api.
Pijar api dari lunjuk memberi warna tersendiri bagi kampung suku Serawai di malam hari. Tradisi ini dilakukan sebagai ungkapan rasa syukur kepada Tuhan serta untuk mengantarkan doa-doa bagi leluhur mereka.

Tradisi Bakar Gunung Api di Bengkulu.

Binarundak di Sulawesi Utara
Begitu juga Motoboi Besar di Sulawesi Utara, memiliki cara yang unik untuk merayakan Lebaran sekaligus mempererat tali silaturahmi. Mereka merayakannya dengan memasak nasi jaha lewat tradisi binarundak yang diselenggarakan tiga hari setelah hari raya Idul Fitri.
Nasi jaha dibuat dari beras ketan, jahe, dan santan yang dimasukkan ke dalam sebatang bambu yang dilapisi daun pisang. Bumbungan bambu berisi nasi jaha ini lalu dibakar beramai-ramai di lapangan dengan sabut kelapa. Nasi jaha ini kemudian dimakan bersama-sama sebagai perekat silaturahmi dan ungkapan rasa syukur kepada Tuhan.

Tradisi Binarundak di Sulawesi Utara.

Perang Topat di Lombok
Meski disebut Perang Topat alias perang ketupat, sama sekali tidak tersirat rasa benci di dalamnya. Tradisi yang ada di Lombok ini justru melambangkan rasa syukur serta kerukunan umat beragama di Lombok. Ritual Perang Topat ini dilakukan enam hari setelah Lebaran dan melibatkan umat Islam dan Hindu.
Prosesi ritual ini dilakukan dengan mengarak sesaji berupa hasil bumi yang kemudian dilanjutkan dengan selebrasi saling melempar ketupat antara suku Sasak dan Bali. Yang menarik, event ini dilakukan di sebuah pura, yaitu Pura Lingsar di Lombok Barat.


Tradisi Tumbilotohe di Gorontalo
Festival Tumbilotohe adalah sebuah tradisi turun temurun yang dilakukan masyarakat Gorontalo untuk menyambut Lebaran. Dulunya, festival ini dimaksudkan untuk memudahkan masyarakat melakukan zakat di malam hari. Kini, tradisi ini menjadi salah satu acara yang ditunggu-tunggu. Tak hanya lampu dan lentera yang menghiasi kota, festival Tumbilotohe juga dimeriahkan dengan berbagai kegiatan, seperti meriam bambu dan festival bedug.

Tradisi Tumbilotohe di Gorontalo.

 

You may also like
Latest Posts from

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *