Kok, 5 Sehat 8 Sempurna, bukannya 4 Sehat 5 Sempurna? Ya! betul Kids, memang sudah diganti, kok. Kenapa diubah, ya? Berikut alasannya!

Sudah Tidak Sesuai

Slogan 4 Sehat 5 Sempurna, pasti sudah kalian hafal sejak lama. Ya, makanan 4 sehat yang terdiri dari nasi, sayur, lauk, dan buah, menjadi 5 sempurna jika ditambah susu. Ternyata, slogan yang dibuat oleh Bapak Gizi Indonesia, Prof. Poerwo Soedarmo itu, sudah ada sejak tahun 1955, lho! Wow... sudah lama sekali ya, Kids?

Tapi, seiring dengan perkembangan ilmu gizi, masalah, dan beberapa risiko lainnya, slogan 4 Sehat 5 Sempurna tersebut sudah tidak sesuai lagi dengan kondisi sekarang ini. Sebab, banyak orang yang salah anggapan. Mereka menganggap susu hanya sebagai penyempurna saja sehingga tidak wajib dikonsumsi. Orang-orang zaman sekarang pun juga semakin kurang melakukan aktivitas fisik  (bergerak atau olahraga) dan banyak mengonsumsi lemak.

Oleh sebab itu, pedoman 4 Sehat 5 Sempurna sudah tidak relevan (sesuai) lagi dengan kondisi saat ini. Maka kemudian disempurnakan dengan ‘Pedoman Gizi Seimbang’ (PGS). Nah, untuk memudahkan pengenalan kepada masyarakat, slogannya diubah menjadi “5 Sehat 8 Sempurna”.

Konsep ‘5 Sehat 8 Sempurna’

Minimal ada 5 poin yang harus dilakukan agar hidup sehat dan 3 hal lagi supaya sehat sempurna. Sehingga konsep ini bernama 5 Sehat 8 Sempurna.

  5 Sehat

  1. Membiasakan konsumsi pangan pokok.
  2. Membiasakan konsumsi lauk pauk.
  3. Membiasakan konsumsi sayur buah.
  4. Minum air yang cukup dan aman.
  5. Membatasi gula, garam, dan lemak (GGL).

 8 Sempurna

  1. Membiasakan aktivitas fisik.
  2. Hidup bersih.
  3. Cek status gizi dan kesehatan.

Persamaan dan Perbedaan

Menurut Guru Besar Gizi Masyarakat Institut Pertanian Bogor (IPB) Prof. Dr. Hardinsyah, MS, terdapat beberapa poin persamaan dan perbedaan antara pedoman 4 Sehat 5 Sempurna dengan 5 Sehat 8 Sempurna, yaitu;

Persamaannya:

  1. Sama-sama masih terdapat tiga kelompok pangan: pangan pokok, lauk pauk, buah dan sayur.
  2. Masih terdapat visualisasi panduan harian mengonsumsi pangan.

Perbedaannya:

  1. Gizi seimbang menambahkan anjuran minum air. Sementara susu termasuk ke dalam kelompok lauk pauk.
  2. PGS membatasi konsumsi gula, garam, dan lemak.
  3. Ada anjuran untuk melakukan aktivitas fisik (olahraga).
  4. Anjuran kebersihan diri (cuci tangan) dan pangan.
  5. Pemantauan berat badan dan pertahankan berat badan normal.
  6. Visualisasi panduan sekali makan.
  7. Anjuran porsi dan proporsi.

“Komponen Pedoman Gizi Seimbang memang lebih komprehensif dan kompleks dibandingkan dengan “4 Sehat 5 Sempurna”, sehingga tidak jarang ditemukan masyarakat yang masih lebih familiar dengan konsep “4 Sehat 5 Sempurna” dibandingkan dengan PGS,” ungkapnya saat ditemui pada acara Journalist Goes To Campus yang digelar Danone Indonesia beberapa waktu lalu.

Meski demikian, pedoman ‘5 Sehat 8 Sempurna’ dianggap sudah memenuhi aspek untuk kebutuhan gizi, sehingga tidak terjadi kelebihan atau kekurangan gizi.

“Intinya, PGS mengacu pada pembatasan porsi makan sesuai dengan usia yang sudah diatur dalam Peraturan Menteri Kesehatan (Permenkes) Nomor 41 Tahun 2014 Tentang Pedoman Gizi Seimbang. Sementara pembatasan GGL dianggap perlu karena berisiko pada penyakit tidak menular (PTM) seperti diabetes, kolesterol hingga jantung. Sementara untuk olahraga, penting karena semakin banyak ditemui kasus obesitas,” terangnya. (Teks : Retno Ilst : Agung)

You may also like
Latest Posts from

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *